12 Februari 2026 · Admin JPA
Berawal dari sebuah rekaman video amatir yang viral di ruang digital, Jaringan Penulis Alam (JPA) menginisiasi sebuah investigasi lapangan mandiri ke hulu Kabupaten Berau.
Memanfaatkan kekuatan jejaring dan pendanaan swadaya, tim berhasil menembus titik lokasi kritis untuk memotret realitas jarak antara aktivitas industri batu bara dan sumber air utama masyarakat.
Laporan ini adalah catatan tentang bagaimana kolaborasi jurnalis dan komunitas bergerak menjaga bentang alam yang tersisa.
Investigasi ini tidak dimulai dari rilis resmi pemerintah atau laporan korporasi, melainkan dari sebuah video pendek yang viral di media sosial.
Direkam secara amatir dari jendela pesawat komersial, video tersebut menangkap lanskap yang mengusik rasa aman — sebuah lubang raksasa menganga di bumi, persis di tepian aliran meliuk Sungai Kelay. Secara topografi, dasar lubang tambang tersebut terlihat jauh lebih rendah dari permukaan air sungai.
Bagi individu dan jurnalis yang tergabung dalam JPA, visual tersebut adalah sebuah alarm tanda bahaya. Sungai Kelay adalah urat nadi, sumber air bersih, dan ruang hidup keanekaragaman hayati Berau. Jika dinding tanah pemisah itu runtuh, bencana ekologis berskala besar tak akan bisa dihindari.
Menyadari pentingnya verifikasi faktual, JPA memutuskan untuk tidak tinggal diam. Tanpa sokongan dana besar, gerakan ini sepenuhnya digerakkan secara swadaya oleh modal solidaritas sesama jurnalis.
Tantangan terbesar adalah akses. Lokasi tambang yang tertutup dan berada di wilayah remote hulu Berau membuat perjalanan tidak mudah.
Namun, di sinilah kekuatan jejaring lokal JPA teruji. Dengan bantuan gotong-royong dari warga lokal dan rekan-rekan di Kabupaten Berau yang menyediakan tumpangan logistik serta penunjuk arah, tim akhirnya berhasil mendekati titik koordinat yang dituju tanpa terdeteksi oleh barikade keamanan konsesi.
Menggunakan peralatan dokumentasi taktis dan pesawat nirawak (drone) yang dibawa secara mandiri, tim JPA berhasil mengambil gambar udara yang presisi di sekitar kawasan Pit 55. Data visual yang terkumpul di lapangan mengonfirmasi kekhawatiran awal.
Jarak yang Intim dan Berbahaya: dinding pembatas (tanggul) yang memisahkan air sungai dengan aktivitas pengerukan alat berat ditemukan sangat tipis, di beberapa titik jaraknya bahkan tidak sampai 100 meter dari bibir sungai.
Ancaman Getaran Struktural: punggungan tanggul yang ringkih tersebut setiap harinya terus-menerus dihantam getaran dari lalu lalang kendaraan berat pengangkut batu bara. Struktur tanah yang terus digoyang ini berada dalam kondisi rentan, terutama saat curah hujan tinggi melanda hulu sungai.
Laporan swadaya ini menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan ruang redaksi konvensional dan biaya tidak boleh menghentikan langkah jurnalis untuk menyuarakan kebenaran lingkungan. JPA akan terus mengawal dan memastikan bahwa janji mitigasi teknis di sepanjang DAS Kelay benar-benar ditepati demi keselamatan ekosistem Berau.
Redaktur penulisalam.org
Jl. Karang Mulya II No. 29, RT 019/RW 000, Lok Bahu, Sungai Kunjang, Samarinda, Kalimantan Timur